MATA KULIAH FOLKLOR LESTARIKAN BUDAYA LOKAL: MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FKIP UNIMUDA SORONG LAKUKAN PRAKTIKUM 👁️️ 27

By Operator Website Minggu, 19 Mei 2019 | 16:53 pm Berita

MATA KULIAH FOLKLOR LESTARIKAN BUDAYA LOKAL: MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FKIP UNIMUDA SORONG LAKUKAN PRAKTIKUM

FKIP Unimuda Sorong, Mahasiswa Semester Tiga Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIMUDA Sorong melakukan praktik mata kuliah folklor. Praktikum merupakan kegiatan wajib salah satu program studi yang tertua di FKIP UNIMUDA Sorong ini, karena memiliki slogan kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, tidak belajar tentang bahasa, tetapi belajar berbahasa. Salah satu praktik dalam mata kuliah folklor adalah analisis folklor bukan lisan yakni mahasiswa menganalisis noken klasik masyarakat Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Sorong. Praktik ini difokuskan untuk mengkaji dan menganalisis makna (nilai filosofis) dan fungsi yang terkandung dalam noken klasik masyarakat Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Sorong.

Mata kuliah folklor adalah salah satu mata kuliah pilihan, dan setiap tahun mata kuliah ini dipilih oleh semua mahasiswa, karena materi yang diajarkan adalah materi-materi sastra (budaya/tradisi) yang klasik yang sudah punah dan hampir punah. Mahasiswa sangat antusias mengikuti praktik mata kuliah folklor, hal ini terlihat dari kekompakan dalam melakukan diskusi kelompok dan keseriusan dalam menganalisis noken masyarakat Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Sorong.

Salah satu mahasiswa Asli Papua Frederika Naas menuturkan ”Saya sangat senang sekali belajar mata kuliah folklor, karena membicarakan sastra (budaya/tradisi) yang saya anggap baru padahal sastra (budaya/tradisi) itu sudah hampir punah. Selain itu, dalam folklor terkandung nilai-nilai luhur dan karakter yang dapat diaplikasi dalam kehidupan sehari-hari di tengah panasnya bara api kehidupan seperti sekarang ini”. Tutur mahasiswa asal Kabupaten Tambrauw yang murah senyum dan disiplin tinggi ini.


 

Mahasiswa lain, Salmos Burdam menuturkan “Ketika saya belajar folklor, banyak hal-hal baru yang saya dapat, misalnya noken salama ini saya hanya sekadar memakainya saja, tanpa tahu nilai filosofis dan maknanya. Setelah menganalisi dengan teman-teman yang lain yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Papua Barat, saya terkagum-kagum dengan nilai filosofis dan makna yang terkandung dalam noken. Bukan hanya itu, ternyata nilai-nilai filosofis dan maknanya berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lain”. Tutur mahasiswa asal Raja Ampat yang hobi mop ini.

Dosen pengampu mata kuliah folklor, Abdul Hafid, M.Pd. menyampaikan “Ketika mahasiswa belajar mata kuliah folklor, sesungguhnya mahasiswa sedang melakukan penyelamatan tradisi dan budaya bangsa yang hampir punah dan tidak ternilai harganya. Mata kuliah ini juga mengajarkan mahasiswa untuk mengapresiasi dan mencintai budaya dan tradisi bangsanya, karena tidak ada bangsa yang besar yang tidak diimbangi dengan budaya dan karya yang besar. Selama ini mahasiswa sangat antusias belajar folklor, bahkan jamnya ditambah di luar jam perkuliahan, untuk studi lapangan dan kepustakaan untuk menjawab antusias dan semangat belajar mahasiswa yang sangat tinggi” ungkap Abdul Hafid.

Relevansi pembelajaran folkor terhadap pendidikan adalah diharapkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia sebagai calon guru mengajarkan nilai-nilai luhur folklor kepada siswa dalam pembelajaran. Dengan mengintegrasikan folklor dalam pembelajaran pada hakikatnya guru telah mentrasfer nilai-nilai karakter yang berbasis kearifan lokal. Pengajaran folklor adalah upaya untuk memartabatkan bangsa dan negara, menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya luhur bangsa yang sudah banyak punah dan hampir punah.(AH).

By Operator Website Minggu, 19 Mei 2019 | 16:53 pm

Artikel Terbaru